|
Herdjoko Semarang (PD)
"Dengan sistem penilaian menggunakan komputer, maka obyektivitas penilaian makin bisa dipertanggungjawabkan. Pemenang dalam pencak silat ditentukan oleh pesilat dan wasit/juri. Dalam olahraga itu, sistem itu masuk dalam kategori grade B. Sementara pemenang yang ditentukan oleh wasit/juri saja masuk grade C. Sedangkan pemenang hanya ditentukan oleh atlet saja masuk dalam grade A," kata Kang Suyoto alias Kang Otoy dalam perbincangan di sela-sela kesibukannya mengeset peralatan penilaian sistem komputerisasi di GOR Jatidiri Semarang, Senin (26/7/2010) untuk perhelatan Kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah III cabang Pencak Silat.
Dalam pesta olahraga Olimpiade, hanya yang masuk grade A (nomor atletik, renang, angkat besi, dan beberapa cabang lainnya yang terukur), lalu grade B seperti anggar, dan lainnnya. Sementara untuk grade C sangat sulit untuk masuk ke arena pesta olahraga akbar tersebut.
"Saya berharap, dengan penggunaan komputer yang membantu wasit/juri dalam menilai pertandingan; bukan hanya nomor laga, tetapi juga nomor seni; maka pencak silat bisa makin terukur dan bisa masuk dalam arena Olimpiade," tutur Kang Otoy, bungsu dari tujuh bersaudara ini.
Lalu Kang Otoy menuturkan kisah latar belakang terciptanya alat canggih ini. Ia pernah kalah penasaran pada seleksi untuk menjadi jago Jawa Barat guna mengikuti pertandingan Pra PON pada tahun 2000.
"Saya sebagai pesilat yang bertanding merasa menang. Ofisial dan seluruh tim pun mengatakan bahwa saya layak sebagai pemenang. Akan tetapi hasil akhir penilaian juri berkata lain. Saya kalah 2 - 3. Itu berarti saya tidak menjadi salah satu pesilat wakil Jawa Barat. Saya melihat ada ketidakberesan, ketidakadilan, ketidakjujuran dalam sistem penilaian yang dilakukan para juri. Dari sana muncullah ide membuat alat yang membuat para jujur terpaksa harus jujur dan adil," katanya.
Gagasan itu baru terwujud pada akhir tahun 2009. Alat yang ia ciptakan mulai diujicobakan pada Kejuaraan Nasional Antar-pergruan Tinggi di Bandung dengan tuan rumah Universitas Padjajaran, tempat ia bekerja. Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jawa Barat mendukungnya.
Sukses di arena kejurnas antar-perguruan tinggi itu kemudian gagasannya mendapat dukungan dari Pengurus Besar IPSI. Sistem penilaian dengan komputer itu dibawa ke arena Rapat Kerja Nasional IPSI di Surabaya pada Mei lalu. Seusai Rakernas IPSI, secara resmi alat penilai itu digunakan dalam arena Kejurnas IPSI di Surabaya.
Karena hasil penilaian itu lebih transparan, dan para penonton, ofisial, maupun pesilat lainnya bisa mengikuti perkembangan angka demi angka perolehan pesilat -- termasuk pengurangan nilai bila melanggar aturan; bisa diikuti selama proses pertandingan. Kerja setiap juri (lima juri) bisa diikuti dengan jelas karena kerja mereka ditayangkan ke layar lebar.
Di meja setiap juri (lima juri) ada kotak hitam bagian dari perangkat komputer untuk menilai pertandingan. Semuanya kotak hitam penilai itu terhubung dengan kabel dengan komputer di meja ketua pertandingan. Semua kerja juri terpantau oleh ketua pertandingan, lewat komputer maupun secara kasat mata manual.
Pada alat itu ada tombol-tombol nilai 1 (pukulan), 2 (tendangan), 3 (jatuhan), 1+1 (tangkis/tolak/elak disertai pukulan balasan), 1+2 (tangkis/tolak/elak disertai tendangan balasan), dan 1+3 (untuk tangkis/tolak/elak disertai jatuhan). Dan itu masih ditambah tombol pengurangan -1, -2, -5, dan -10. Bagi wasit/juri yang biasa melakukan dengan manual sudah paham harus memencet tombol mana dalam menilai.
Sebagai contoh, bila wasit memutuskan jatuhan sah untuk pesilat sudut merah, maka secara satu per satu atau hampir bersamaan waktunya, kotak nilai pesilat sudut merah akan bertambah 3 poin. Akan tetapi mengenai pukulan dan tendangan, setiap juri bisa berbeda menilainya karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang jelas sama adalah nilah jatuhan, pengurangan nilai karena pelanggaran.
Ketika babak ketiga berakhir, wasit langsung memanggil dua pesilat ke tengah tanpa menunggu hasil penghitungan nilai. Sebab begitu gong babak ketiga berakhir, jumlah total nilai dua pesilat sudah terpampang jelas. Pemenang bisa langsung diumumkan. Akan tetapi bila pertandingan berakhir seri; maka akan ditambah satu babak lagi.
"Bila tambahan satu babak masih seri, maka akan diadakan penimbangan berat badan. Pesilat dengan berat badan lebih ringan yang menang. Bila ternyata berat badannya sama, maka langkah terakhir adalah undian. Itu memang peraturan pertandingan," kata Agung Nugroho, wasit/juri senior asal Yogyakarta.
Lebih Cepat
Karena sistem kerja yang praktis itulah maka penggunaan komputer dalam penilaian menjadi lebih cepat, lebih transparan. Karena kerja tiap juri terpantau langsung, mau tidak mau, juri akan berusaha bertindak seadil-adilnya. Taruhan juri yang tidak adil sangat sederhana, diketahui oleh semua orang. Ada kemungkinan juri tersebut langsung mendapat protes keras dan bahkan bisa memicu keributan bila masih dipasang untuk bertugas.
Untuk nomor seni tunggal, ganda, maupun beregu, alat komputer itu juga telah tersedia tombol-tombol penilaian untuk jumlah gerakan, pelanggaran, dan sebagainya. Pendek kata, begitu pesilat selesai bermain, nilai akhir sudah langsung terlihat di layar lebar. Ketua Pertandingan dan staffnya di meja hanya tinggal mencetak hasil akhir penilaian itu sebagai dokumen, dan menyimpan filenya ke komputer.
Untuk sebuah perhelatan kejuaraan besar yang melibatkan ratusan pesilat dan hanya berlangsung dalam beberapa hari yang sangat terbatas, sistem komputerisasi ini juga menjadi dewi penolong yang ampuh.
Ketua Lembaga Wasit Juri Nasional dan juga menjabat Ketua Departemen Pembinaan Prestasi PB IPSI A Tafsil Rimsal SH menjelaskan, bila dalam penilaian manual dalam satu hari hanya bisa menyelesaikan 30 partai laga, maka dengan alat komputer itu bisa menyelesaikan 40 laga. "Selain itu jumlah juri pun nanti bisa dikurangi hanya dengan tiga orang karena sistem penilaian yang transparan tersebut," katanya.
Dari sisi ini maka kelebihan komputerisasi itu jelas akan menghemat waktu, biaya akomodasi, hingga biaya transportasi.
Akan tetapi di sisi lain kelemahan yang paling utama adalah alat itu benar-benar tergantung pada pasokan energi listrik. Bila listrik macet, maka alat itu juga ogah bekerja lagi. Alat itu menjadi tidak berdaya sama sekali. Belum lagi bila ada kemungkinan komputer ngadat alias hang. Maka mau tidak mau, secepatnya pertandingan akan beralih ke penilaian secara manual.
Kritik lainnya adalah perlu ditambahkan adanya pencatat waktu. Itu artinya tayangan di layar lebar harus seusai dengan tombol pencet yang dipegang pencatat waktu. Dengan cara itu maka kecurangan yang bisa dilakukan oleh pencatat waktu bisa dicegah.
Biaya penggunaan peralatan itu untuk saat ini adalah Rp 10 juta untuk dipakai dalam satu acara pertandingan sejak awal hingga akhir. Bila ingin membuat sendiri, maka harus merogoh kocek sekitar Rp 90 juta.
Masih Harus Disempurnakan
Khusus untuk kejuaraan silat Perisai Diri, alat komputer ciptaan Kang Otoy itu memang harus lebih disempurnakan. Untuk nomor-nomor versi PD belum ada alat komputer. Padahal nomor ini lumayan banyak mulai dari kerapian teknik tangan kosong kombinasi dan teknik asli, bersenjata bebas dan wajib, berpasangan tangan kosong dan bersenjata, serta serang hindar.
"Memang menjadi lebih rumit. Semua memerlukan alat tersendiri. Itu juga masih saya pikirkan bagaimana membuat programnya," Kang Otoy mengakui.
Sementara dalam perhelatan PDIC VI tahun 2010 di Jakarta kemarin, penggunaan komputer dalam pertandingan memang belum begitu penting bila dilihat dari sisi penghematan waktu. Sebab banyak jam yang kosong alias waktunya sangat longgar. Dengan manual saja semua masih bisa teratasi. Namun bisa dilihat dari sisi obyektivitas dan prestisius sebuah kejuaraan dunia, penggunaan komputer sebagai pencatat penilaian memang lebih baik. Namun, peralatan itu ternyata masih hanya sebatas nomor-nomor versi IPSI (laga, dan tiga nomor seni).
Di sisi lain Kang Otoy menambahkan, ia akan merasa sangat bangga bila hasil karyanya digunakan dalam kejuaraan silat Perisai Diri. "Sebab saya adalah orang Perisai Diri. Saya bisa menjadi begini juga karena Perisai Diri," tuturnya. (***)
|