|
/images/stories/img_9361.jpg
Shunshine Coast, PD
BROOOMMM..!!! Crass... Crass...!
Mobil itu melintas cepat di tengah hujan. Empat rodanya menerjang genangan air sehingga menimbulkan cipratan deras ke kiri dan kanan. Terkesan terburu-buru, mobil tersebut langsung berhenti di tanah basah genangan lumpur.
Begitu mobil berhenti, pintu samping kiri sontak terbuka. Sesosok bayangan putih kecil melompat, melesat keluar. Ia tidak menghiraukan hujan deras. Ia lari begitu saja berbasah-basah.
"HURRY UP MOM! I AM ALREADY LATE!" seru si kecil sambil menoleh cepat ke belakang.
Si empunya bayangan putih itu ternyata seorang anak yang mengenakan pakaian serba putih. Ia terus berlari, melompat ke kanan dan ke kiri. Kaki-kaki kecilnya begitu lincah menapaki tanah becek berlumpur. Tidak terpeleset. Kaki-kaki kecil itu seolah memiliki mata sehingga tanah licin tersebut tidak mampu menjebaknya untuk jatuh terjerembab.
Si kecil ini meneruskan larinya. Ia menerabas pepohonan yang rindang, di antara pohon-pohon bambu yang tinggi menjulang hingga enam meter. Ia tidak ingin ketinggalan sesuatu. Entah apa itu.
Di balik pepohonan bambu, terlihat beberapa anak lain sudah berada pada barisan yang teratur. Di tengah hujan yang cukup deras, di tempat seluas enam kali delapan meter, mereka melakukan gerakan-gerakan beladiri yang dipimpin oleh seorang pelatih bertubuh tegap.
Betul! Mereka memang sedang berlatih beladiri di tengah hujan!
"I am sorry, Mas. I am late!" seru si kecil kepada sang pelatih yang masih tegap berdiri.
"Hening... and get into the line," ucap sang pelatih singkat.
Sang ibu yang tertinggal pun akhirnya tiba di tempat tersebut. Di tengah hujan, ia mengambil posisi duduk di saung kecil yang sudah disiapkan untuk menonton. Tidak menggunakan payung, ia seakan ingin turut merasakan apa yang dirasakan buah hatinya: si kecil putih.
Komitmen
Itulah tempat latihan Perisai Diri Yandina, Sunshine Coast , 137 km arah utara dari kota Brisbane, Australia. Di tempat ini, latihan digelar di tempat terbuka. Bila siang kepanasan, jika hujan jelas basah kuyup. Panas maupun hujan adalah teman dan kawan.
"Bila mereka ingin berlatih di sini, mereka harus berkomitmen dan tidak boleh absen hanya karena alasan hujan apalagi karena sedang malas," kata Mas Blake Briety, tingkat Biru Merah, pelatih PD Yandina.
Mas Blake ini memang tidak mau main-main. Ia benar-benar membatasi jumlah anggotanya yang masuk. "Hanya 10 orang per grup pendaftaran. Mereka terlebih dahulu harus lulus tes fisik. Setelah mereka lulus ujian fisik dan orangtua mengerti konsekuensi dari komitmen ini, maka mereka baru diperbolehkan bergabung," katanya kepada SilatPerisaiDiri.Com.
PD Yandina menerima tiga grup latihan anak dan satu grup latihan dewasa.
Apakah komitmen tersebut?
"Kami ingin para orangtua menyadari bahwa dengan bergabung di PD Yandina, mereka harus terus berlatih selama enam bulan dan tidak boleh absen karena cuaca. Latihan hanya libur saat hari Natal dan hujan es," tutur Mas Blake.
Lalu, untuk urusan administrasi, mereka harus melakukan pembayaran enam bulan di muka untuk membuktikan komitmen tersebut.

Foto: Mas Blake Briety, pelatih Perisai Diri Yandina, Sunshine Coast, Queensland, Australia.
Disiplin Tinggi
Jangan berharap bisa dengan mudah melenggang berlatih di tempat ini. Tidak sedikit orang ingin bergabung namun mereka ditolak karena harus menunggu enam bulan ke depan.
"Kami tidak ingin ada anggota masuk di tengah jalan. Mereka harus menunggu hingga tanggal pendaftaran berikutnya." ujar Mas Blake.
Tujuan aturan itu adalah agar anggota yang sudah berlatih tidak terganggu gara-gara ada murid baru datang pada tengah smester pelajaran. Bagi orang Australia, disiplin merupakan tantangan tersendiri.
Pelatih PD yang beristrikan Mbak Rama (anggota PD Bali) ini sangat dikenal dengan ketegasan dan kekerasannya dalam melatih silat. Sikap Mas Blake ini menjadi ciri khas padepokan kecilnya.
"Beberapa waktu lalu kami memberhentikan 16 dari total 26 anggota dalam satu angkatan. Alasannya sebagian dari mereka tidak fokus saat berlatih dan sebagian lagi karena tidak hadir dengan alasan cuaca," katanya.
Karena keputusannya itu banyak dari orangtua anak-anak tersebut memprotes karena pemberhentian sepihak tersebut.
"Namun saya jelaskan bahwa mereka telah melanggar disiplin. Akhirnya mereka mau menerima. Saya yakin mereka akan bercerita ke orang lain tentang apa yang terjadi," ujarnya.
Mas Blake tidak khawatir kehilangan anggota lantaran aturan organisasinya yang ketat. Dengan aturan yang sangat ketat dalam soal disiplin itu, maka secara alami mereka yang mendaftar menjadi anggota PD akan terseleksi secara alami.
"Itu justru akan mempermudah kami. Sebab mereka yang datang sudah siap dengan tingkat disiplin yang tinggi. Orang Australia umumnya akan tertantang untuk bergabung bila mendengar hal ini," ia menambahkan.
Pesilat Andal
Melihat dari kedisiplinan yang diterapkan, tidak heran bila gemblengan dari Mas Blake banyak menghasilkan pesilat andal PD di Australia. Mereka memiliki loyalitas yang kuat kepada silat dan punya standar teknik baik.
Sebagai contoh, nama yang cukup dikenal di Indonesia adalah Juara Serang Hindar tingkat International Chris Sanidas dan juara SH kelas B kejurnas mahasiswa Semarang, Jason.
Mereka berdua berawal dari tempat ini. Bahkan seorang mantan pemain sepak bola U-20 Bundes League Jerman, Andre Maia, pun berlatih bersama Mas Blake dan kini telah menyandang tingkat Biru (asisten pelatih) dan terus mengembangkan PD di Adelaide, South Australia .
"Saya bersyukur kawan-kawan yang dulu berlatih bersama kini tetap aktif dan mengembangkan PD di Australia," kata Mas Blake yang juga pandai melukis ini.
Harus Lebih Baik
Pelatih yang telah menggeluti PD lebih dari 20 tahun ini berpendapat, silat PD Australia harus bisa lebih baik dan lebih profesional daripada beladiri lain.
''Kami tidak ingin melatih silat dengan cara donation, apalagi gratis. Ini hanya akan menjatuhkan value (nilai) kita di mata orang Australia," ungkapnya.
"Bila beladiri lain mencharge tinggi sekali dengan teknik seadanya, kenapa PD yang tekniknya sangat bagus, malah menjual murah? Hal ini hanya mengesankan bahwa PD bukanlah suatu hal yang hebat, karena mereka menilai dari value kita," tuturnya.
Di sisi lain ia juga berpendapat bahwa melatih PD pun seharusya bisa menjadi main income (pendapatan) asalkan memiliki manajemen kelas yang baik.
"Harga yang tinggi, latihan yang keras, memberikan kepuasan dan kemajuan kepada anggota, maka akan semakin meningkatkan value PD di mata umum," kata ayah dari dua anak ini.
Ia menambahkan bila seluruh Australia memiliki basis managemen latihan PD yang baik, memiliki murid yang banyak dan dana yang kuat, maka PD dapat mengundang pelatih Indonesia dengan kemampuan silat yang tinggi untuk keliling Australia. Semua dengan biaya dari daerah.
"Misalnya saja, kita undang seorang ahli teknik Mliwis ke Australia untuk melatih Mliwis. Ia akan dikelilingkan dari Perth, Melbourne, Adelaide, Sydney, hingga Brisbane. Tiap daerah bisa membuat seminar Mliwis dengan menjual tiket," katanya.
Pemasukan dana dari seminar tersebut bisa digunakan untuk menutup biaya tiket perjalanan sekaligus fee pengisi seminar. Jadi tidak harus semua anggota PD di Australia diminta datang ke satu tempat karena ada Pendekar yang hadir.
"Saya yakin mereka (pesilat PD Indonesia) tentu lebih senang bisa melihat langsung perkembangan di tiap daerah Australia. Bukan hanya pendekar, tapi bisa siapa saja (yang memiliki teknik bagus - red)," tutur Mas Blake.
Budaya PD
Tempat latihan yang memiliki website http://www.pdsunshinecoast.com.au ini ternyata tidak melunturkan kultur PD yang utama, yaitu kekeluargaan.
Latihan sore tersebut masih dilanjutkan dengan barbeque bersama di tempat latihan. Barbeque itu bukan hanya untuk anggota, tapi seluruh keluarga anggota yang hadir.
"Ini hampir terjadi setiap malam seusai latihan grup dewasa. Kami biasanya ngobrol di tempat latihan ini hingga larut malam," kata Mbak Rama yang sudah menyiapkan makanan sejak tadi.
"Pintu kami selalu terbuka bagi mereka yang mau datang, baik pada waktu pagi, siang ataupun malam hari. Pokoknya, jangan sampai kekeluargaan itu hilang dari PD," kata Mbak Rama asal Bali ini. (***)
|