|
/images/yogya-sultan1-2-web.jpg
Yogyakarta (PD)
Setiap anggota Perisai Diri diharapkan memiliki kepercayaan diri yang kuat, berperangai lemah lembut, tidak sombong, waspada dan mawas diri, serta bijaksana dan berpikir dalam bertindak. Itulah pesan Sri Sultan Hamengku Buwono X seusai mengukuhkan Mas Rachmat Gobel, bos PT Panasonic Gobel Internasional di Bangsal Srimanganti, Kraton Yogyakarta pada Sabtu (10 April 2010).
"Keseimbangan ini akan mengarahkan manusia pada tujuan akhir yang paling luhur, yakni mengabdi kepada Tuhan Sang Pencipta. Dengan menyandang karakter persilatan dunia putih seperti itu, maka sungguh saya menerima kehormatan teramat besar dapat dikukuhkan menjadi Pendekar Perisai Diri pada 29 April 2006 yang lalu," kata Sultan.
Sekitar 150 pesilat Perisai Diri mulai dari tingkat calon keluarga hingga pendekar dari seluruh daerah di Indonesia, mulai dari Nusa Tenggara Timur hingga Sumatera Utara, dari Banten hingga Jawa Timur, benar-benar merasakan kehangatan sambutan Sultan yang menjadi tuan rumah.

Sultan pertama kali menemui Mas-mas Pendekar, mulai dari Mas Nanang Soemindarto, Mas Arnowo Adji, Mas Nur Hasdiyanto, Mas Sunardi Sindumintono, Mas Syaukat Ali, Mas Hari, Mas Rachmat Gobel, Sekretaris Jendral Persilat Haryadi Anwar, dan Ketua Bidang Organisasi KONI Daerah Istimewa Yogyakarta Syamsudimulyo di Gedhong Jene (Gedung Kuning).
Di salah satu ruang Gedhong Jene yang menjadi ruang tamu itulah Sultan dengan ramah menyapa semua yang hadir. Senyum selalu menghiasi wajahnya. Dalam usianya yang 64 tahun, Sultan tampak berwibawa, lembut, dan ramah. Berjalan tegak, kemudian duduk bersebelahan dengan Mas Rachmat Gobel. Lalu terlibat pembicaraan hangat. Termasuk ketika Sultan menceritakan soal andong sebagai angkutan wisata di Yogyakarta.
Gedhong Jene adalah kediaman utama Sultan dalam menyambut tamu-tamunya. Di depan ruang berdiri dengan santun dua orang abdi dalem berpakaian surjan dan berkain panjang khas Yogyakarta, tanpa alas kaki. Kawasan itu termasuk yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan yang bisa bebas keluar-masuk kawasan Kraton. Meski begitu, wisatawan bisa menyaksikan Gedhong Jene itu dari jarak sekitar 50 meter. Mereka juga bebas mengabadikan dengan foto.
Satu keluarga wisawatan dari Belgia, dua orang gadis dengan dua orangtuanya, dengan antusias bertanya-tanya soal Sultan dan hubungannya dengan silat. Apa itu silat? Apa bedanya dengan karate? Dan pertanyaan lainnya. Sang pemandu pun tidak kalah antusiasnya menjelaskan soal silat itu.
Ketika Sultan keluar dari ruang Gedhong Jene bersama Mas Rachmat Gobel yang akan dikukuhkan menjadi Ketua Kehormatan Perisai Diri, belasan wisatawan berebut memotret para Pendekar Perisai Diri itu. Sri Sultan berada di depan berjalan bersama Mas Rachmat Gobel dengan pakaian Perisai Diri. Rombongan itu menuju Bangsal Sri Manganti tempat pengukuhan.
Lika-liku-lakon Kehidupan
Sultan dengan lancar menceritakan sejarah Silat Perisai Diri. "Orang Yogya tentu sudah banyak yang mengetahui bahwa Bapak Dirdjoatmodjo, pendiri Perisai Diri, terlahir di Yogyakarta dari dalam tembok Paku Alaman. Konon, setelah belajar ilmu kanuragan dan ilmu agama yang diserap langsung dari berbagai sumber; ia bertekad untuk menggabungkan dan mengolah ilmu-ilmu yang dipelajarinya," Sultan bercerita.
Berpindah guru, Sultan melanjutkan dalam sambutannya, baginya berarti mengetahui hal baru dan menambah yang kurang. Seperti halnya pepatah Jawa: Ngangsu apikulan warih.
"Akhirnya cita-cita itu terkabul setelah beliau menjalani 'laku' dalam 'lika-liku'-nya 'lakon' kehidupan dunia persilatan. Ketika di Surabaya membuka kursus pencak silat yang menandai berdiriya Perisai Diri pada tahun 1955. Teknik silat yang diajarkan adalah gabungan berbagai teknik beladiri yang ada di Indonesia," tuturnya.
Sultan menyambung, kursus silat yang berciri khas itu berkembang pesat. Peminatnya bukan hanya kaum muda, namun meluas ke kalangan pekerja, pegawai negeri, swasta, sampai militer. Perisai Diri pun melebarkan sayap sampai ke Australia, Belanda, Jerman, Austria, dan Inggris.
"Itu menunjukkan bahwa silat yang satu ini mudah dipelajari oleh semua orang, segala usia, dan tingkatan ekonomi, sosial, dan bangsa," kata Sultan.
Ngarsa Dalem (orang Yogya menyebut Sultan demikian) menyatakan bangga menjadi Pendekar Perisai Diri. "Kebanggaan yang sama tentu juga dirasakan Bapak Rachmat Gobel ketika dikukuhkan sebagai Ketua Kehormatan Perisai Diri. Semoga kehormatan ini bisa dibaktikan guna pengembangan ilmu silat di tengah ilmu beladiri tingkat dunia. Sehingga kehadiran Perisai Diri dapat ikut memberikan kontribusi bermakna dalam rangka nation and character building bagi bangsanya," ujar Sultan. (***)
|