|
Written by Herdjoko
|
|
Wednesday, 10 March 2010 |
|
Herdjoko/Monu Katili
Tokyo (PD)
"Kowai...!!! Kowai..!!!"
Itulah
teriakan spontan dari beberapa pemuda dan pemudi berkulit kuning
bermata sipit. Mereka adalah warga Jepang yang menyaksikan pertarungan
dua jago gaek berusia 57 tahun dan 60 tahun.
Apa kehebatan dua
jago gaek itu? Apakah sekaliber petinju Evander Holyfield atau George
Foreman yang masih naik ring ketika usia mereka di atas 40 tahun? Ikuti
dulu kisahnya.
Kowai berarti seram. Agar lebih kuat tekanannya
orang Indonesia bilang serem. Lalu yang serem apanya? Lha wong jago tua
duel kok dibilang serem.
Tetapi itulah yang terjadi. Kelebatan
pukulan, tendangan, bahkan putaran badan dua jago itu begitu terukur,
tepat, akurat. Sebaliknya si penghindar pun mampu "membaca" serangan
lawan dengan jeli. Mana kala serangan itu sulit dihindari, maka
langsung ditolak. Kapan menghindar, kapan balas menyerang; sudah mirip
air mengalir.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 10 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Herdjoko
|
|
Wednesday, 10 March 2010 |
|
Herdjoko
Solo (PD)
Terjangan lutut maupun sodokan siku silih
berganti mengarah tempat-tempat berbahaya. Lelaki berbobot 53 kg itu
matanya tidak pernah lepas dari serangan-serangan gaya Muaythai
tersebut. Beberapa kali serangan bisa ia elakkan, beberapa serangan
lainnya ia amati gerakannya.
Setelah yakin, ia mengambil jarak.
Menunggu lawannya yang dengan beringas mendesak dan berusaha mematikan
langkahnya dengan serangan bertubi-tubi itu. Dan, hap... sebuah
tendangan samping lurus langsung menerpa dada penyerang bertubuh lebih
jangkung dan berbobot sekitar 64 kg tersebut.
Si penyerang masih
belum percaya bila lawannya yang lebih kecil mampu mengatasi
serangannya. Ia mengambil ancang-ancang. Mendekat dengan perlahan, dan
siap melancarkan serangan siku sekuat tenaga mengarah pelipis. Akan
tetapi, sebelum siku itu membentuk serangan, sebuah pukulan tangan
kanan yang keras mendera dadanya. Ia terjajar.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 10 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Herdjoko
|
|
Monday, 08 March 2010 |
|
Solo (PD)
Pipi gadis itu memerah dan menghitam karena sengatan panas
matahari yang berada di titik kulminasi. Jidatnya mengembun keringat.
Dua tangannya yang memasang sikap harimau juga mengkilap karena
keringat. Di depannya, tidak kalah garangnya, seorang dara dengan kaca
mata hitam memasang sikap tarung yang angker.
Dua petarung
tersebut berpanas-ria di hamparan pasir putih pantai. Mereka siap adu
gebrak sehebat-hebatnya. Tiada atap yang menutupi dua petarung itu.
Mereka berlaga di alam bebas. Diterpa angin, disengat matahari. Belaian
jutaan butir pasir di kaki mereka sering terbang menjadikan mata
kelilipan. Pasir yang memanas itu pun menjadi penyiksa kaki-kaki
tangguh tersebut.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 10 March 2010 )
|
|
Read more...
|
|
|